Cerpen : Hidup Untukmu Mati Tanpamu
HIDUP UNTUKMU MATI TANPAMU
Roni adalah seorang anak laki-laki
yang berperawakan lumayan menakjubkan, sejak ibunya hamil dia selalu berharap
bisa mendapatkan seorang adik laki-laki , namun sayangnya fakta yang ada
adiknya lahir dengan jenis kelamin perempuan. Tapi roni tidak putus asa,roni
berusaha untuk menerima keadaan dan bersyukur karena ibu dan adiknya bisa selamat.walaupun
ketika melahirkan ayah roni tidak bisa berada di sisi ibunya seperti ayah-ayah
yang lain,tapi roni selalu percaya bahwa ayahnya akan selalu ada di samping
mereka walaupun tidak terlihat nampak, ayahnya selalu memantau mereka melalui
cermin surga.
Hari terus berlalu , tanpa disadari kini adik roni sudah bisa berdiri dan mulai belajar berjalan .. melihat kejadian itu roni selalu berusaha untuk bisa tiba di rumah secepat mungkin ketika pulang sekolah agar bisa menemani adiknya bermain dan menyaksikan sendiri perkembangan adik kesayangannya .""ayo ren, kau pasti bisa berjalan .. selangkah demi langkah ya ren" kata roni
Seketika reni melangkah perlahan namun pasti seakan-akan mengerti apa yang dikatakan kakaknya itu..
Hari terus berlalu , tanpa disadari kini adik roni sudah bisa berdiri dan mulai belajar berjalan .. melihat kejadian itu roni selalu berusaha untuk bisa tiba di rumah secepat mungkin ketika pulang sekolah agar bisa menemani adiknya bermain dan menyaksikan sendiri perkembangan adik kesayangannya .""ayo ren, kau pasti bisa berjalan .. selangkah demi langkah ya ren" kata roni
Seketika reni melangkah perlahan namun pasti seakan-akan mengerti apa yang dikatakan kakaknya itu..
Tahun demi tahun terus berganti .. kini roni berumur 18
tahun , roni sangat menyayangi adiknya ,dia selalu berusaha ada di saat adiknya
membutuhkannya, mendengar curahan hati reni dan mencoba memberikan solusi
terbaik untu adik kesayangannya itu "kau tahu ren, aku akan selalu ada
untukmu .. selalu ada" kata roni sambil mencium kening adiknya
"trimaksih kak, karna ibu dan kakak aku bisa seperti ini .. karna ibu dan kakak aku merasa mempunyai keluarga yang lengkap walaupun aku tahu itu sebuah opini, faktanya ayah sudah tiada" reni menangis sambil memeluk kakaknya
"Ren kau harus tahu satu hal, sejak kecil kakak selalu percaya bahwa ayah selalu memantau kita lewat cermin surga. Itu tandanya ayah sangat menyayangi kita seperti ibu , sudahlah jangan buat ayah bersedih di kejauhan sana"roni mencoba untuk menangkan hati adiknya
"iya kak, reni janji akan buat ayah dan ibu bangga punya anak seperti reni" dengan segera reni menghapus air matanya
"kakak bangga padamu ren, kakak yakin ayah pasti tidak menyesal karena telah meninggal di usia kandungan ibu yang baru 7 bulan. Karena memiliki anak yang kuat sepertimu, kecelakaan itu tidak akan di sesali ayah" roni melepaskan pelukanya lalu kemudian menghapus air mata reni.
"Iya kak, reni tahu itu" senyuman manis reni kembali seperti sedia kala..
"trimaksih kak, karna ibu dan kakak aku bisa seperti ini .. karna ibu dan kakak aku merasa mempunyai keluarga yang lengkap walaupun aku tahu itu sebuah opini, faktanya ayah sudah tiada" reni menangis sambil memeluk kakaknya
"Ren kau harus tahu satu hal, sejak kecil kakak selalu percaya bahwa ayah selalu memantau kita lewat cermin surga. Itu tandanya ayah sangat menyayangi kita seperti ibu , sudahlah jangan buat ayah bersedih di kejauhan sana"roni mencoba untuk menangkan hati adiknya
"iya kak, reni janji akan buat ayah dan ibu bangga punya anak seperti reni" dengan segera reni menghapus air matanya
"kakak bangga padamu ren, kakak yakin ayah pasti tidak menyesal karena telah meninggal di usia kandungan ibu yang baru 7 bulan. Karena memiliki anak yang kuat sepertimu, kecelakaan itu tidak akan di sesali ayah" roni melepaskan pelukanya lalu kemudian menghapus air mata reni.
"Iya kak, reni tahu itu" senyuman manis reni kembali seperti sedia kala..
Keesokan harinya roni dan reni yang kebetulan bersekolah di
tempat yang sama memutuskan berangkat bersama untuk pertama kalinya ..
selama ini mereka selalu berangkat sendiri, dikarenakan roni yang selalu telat bangun karna sudah terbiasa dengan masa-masa SMAnya sementara reni yang masih labil belum tahu apa-apa selalu berusaha agar bisa ke sekolah secepat mungkin.
"Kak ayo .. katanya mau berangkat bareng.. mana ? mau buat opini lagi" reni menarik selimut roni
"apaan sih ren.. ini kan baru jam 7,dasar anak kelas 1. lebay kamu dek" roni menarik selimutnya kembali
"ya sudah.. reni berangkat di luan yah kak. Bye.." kata reni sambil berjalan menuju pintu
"stoopppppppppp.... iyah iyah, kamu sarapan dulu gih sana. Kakak mau mandi dulu" dengan segera roni mengambil handuk kesayangannya yang berwarna merah mudah
"dasar, kakak yang aneh.. masih betah aja pake selimut banci itu" dengan nada mengejek reni berlari keluar kamar
Ketika dalam perjalanan menuju ke sekolah, reni mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah di duga oleh roni..
"kak,, kenapa sih kakak beda dari cowok-cowok lain, kakak tau tidak ?mereka semua itu sering keluar bareng temen-temen mereka. Katanya sih sudah kodrat cowok" reni bertanya mengharapkan jawaban yang dia harapkan
""mungkin sekarang saatnya kamu harus tau tentang kakak.. tapi kamu harus janji, jangan pernah bilang ke siapa-siapa. Janji ?" roni menghela nafas dalam-dalam
"janji kak.." dengan nada penasaran
"sebenarnya kakak terkena penyakit gagal ginjal ren, ibu juga tau ini kok.. sejak kecil kakak sudah di vonis terkena penyakit ini, dan sekarang sudah stadium 4, makanya selama ini makanan dan minuman kakak sangat terbatas.." mata roni memerah
"kakak bohong, reni ga akan pernah percaya kata-kata kakak.. itu opini kan kak ?" tangisan reni mengharapkan jawaban iya dari kakaknya
"kakak ga bohong ren .. kakak serius , selama ini kamu selalu terkesan mengharapkan jawaban opini ren, cobalah untuk menerima faktanya"" roni memeluk erat-erat adiknya, seakan-akan itu pertemuan terakhir mereka.
selama ini mereka selalu berangkat sendiri, dikarenakan roni yang selalu telat bangun karna sudah terbiasa dengan masa-masa SMAnya sementara reni yang masih labil belum tahu apa-apa selalu berusaha agar bisa ke sekolah secepat mungkin.
"Kak ayo .. katanya mau berangkat bareng.. mana ? mau buat opini lagi" reni menarik selimut roni
"apaan sih ren.. ini kan baru jam 7,dasar anak kelas 1. lebay kamu dek" roni menarik selimutnya kembali
"ya sudah.. reni berangkat di luan yah kak. Bye.." kata reni sambil berjalan menuju pintu
"stoopppppppppp.... iyah iyah, kamu sarapan dulu gih sana. Kakak mau mandi dulu" dengan segera roni mengambil handuk kesayangannya yang berwarna merah mudah
"dasar, kakak yang aneh.. masih betah aja pake selimut banci itu" dengan nada mengejek reni berlari keluar kamar
Ketika dalam perjalanan menuju ke sekolah, reni mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah di duga oleh roni..
"kak,, kenapa sih kakak beda dari cowok-cowok lain, kakak tau tidak ?mereka semua itu sering keluar bareng temen-temen mereka. Katanya sih sudah kodrat cowok" reni bertanya mengharapkan jawaban yang dia harapkan
""mungkin sekarang saatnya kamu harus tau tentang kakak.. tapi kamu harus janji, jangan pernah bilang ke siapa-siapa. Janji ?" roni menghela nafas dalam-dalam
"janji kak.." dengan nada penasaran
"sebenarnya kakak terkena penyakit gagal ginjal ren, ibu juga tau ini kok.. sejak kecil kakak sudah di vonis terkena penyakit ini, dan sekarang sudah stadium 4, makanya selama ini makanan dan minuman kakak sangat terbatas.." mata roni memerah
"kakak bohong, reni ga akan pernah percaya kata-kata kakak.. itu opini kan kak ?" tangisan reni mengharapkan jawaban iya dari kakaknya
"kakak ga bohong ren .. kakak serius , selama ini kamu selalu terkesan mengharapkan jawaban opini ren, cobalah untuk menerima faktanya"" roni memeluk erat-erat adiknya, seakan-akan itu pertemuan terakhir mereka.
Sesampainya di sekolah. Reni tidak sengaja menabrak salah
seorang cowok yang akhirnya membuat minuman yang dibawanya itu tumpah memenuhi
bajunya
"ehh.. maaa maaf maaf.. aku ga sengaja" reni membantu membersihkan pakaiannya
"iyaa.. ga apa-apa kok. Ini cuman kesalahan biasa" matanya menatap reni dalam
"hey.. kalau mau pacaran bukan di sini tempatnya" roni berusaha untuk merusak suasana
"apaan sih kak roi.. orang ga pacaran" pipi reni memerah
"perkenalkan, namaku billy .. kamu" billy mengulurkan tangannya pada reni
"aku reni.. maaf yah..aku ga bisa bantu kamu ngebersihin baju kamu. Soalnya aku buru-buru mau masuk kelas. Maaf berbincang-bincangnya lain kali saja.." reni berlari menuju kelas
Ketika di kelas reni tidak bisa melupakan tatapan billy, tapi tiba-tiba fikirannya itu di buyarkan oleh perkataan kakaknya tadi pagi saat di dalam mobil.
Reni tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya kakak kesayangannya itu selama ini.
Padahal faktanya selama ini roni selalu terlihat baik-baik saja.
"kakak memang anak yang kuat.. aku bangga punya kakak kayak kak roi .." kata reni dalam hati
"ehh.. maaa maaf maaf.. aku ga sengaja" reni membantu membersihkan pakaiannya
"iyaa.. ga apa-apa kok. Ini cuman kesalahan biasa" matanya menatap reni dalam
"hey.. kalau mau pacaran bukan di sini tempatnya" roni berusaha untuk merusak suasana
"apaan sih kak roi.. orang ga pacaran" pipi reni memerah
"perkenalkan, namaku billy .. kamu" billy mengulurkan tangannya pada reni
"aku reni.. maaf yah..aku ga bisa bantu kamu ngebersihin baju kamu. Soalnya aku buru-buru mau masuk kelas. Maaf berbincang-bincangnya lain kali saja.." reni berlari menuju kelas
Ketika di kelas reni tidak bisa melupakan tatapan billy, tapi tiba-tiba fikirannya itu di buyarkan oleh perkataan kakaknya tadi pagi saat di dalam mobil.
Reni tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya kakak kesayangannya itu selama ini.
Padahal faktanya selama ini roni selalu terlihat baik-baik saja.
"kakak memang anak yang kuat.. aku bangga punya kakak kayak kak roi .." kata reni dalam hati
Tringgggg..... ketika bel berbunyi , reni segera berlari
menuju kelas kakaknya .. namun tanpa diduga reni bertemu billy
"hay ren.. mau kemana kamu ?" sapanya dengan lembut
"mau ke kelas kak roi, kan pulangnya bareng kak roi" reni memperlambat langkahnya
"ohh yaudah.. oia, kita bisa berteman kan ? " billy tersenyum
"boleh.. bersahabat malah" reni membalas senyuman billy
"trimaksih yah ren , yasudah, aku pulang diluan yah.. ingat, besok harus makan di kantin bareng buat ngerayain persahabatan kita .."" billy menepuk bahu reni
"ok sipp .. " reni hanya bisa terpaku dan memberikan 1 kata
Setelah tiba di depan kelas roni, reni segera menarik lengan kakaknya agar bisa keluar secepatnya dari kelas yang sok bersih itu
"ayo kak ,cepetan reni punya banyak pertanyaan buat kakak " ucap reni
"iya,, sabar dong ren.. ini juga sudah gerakan cepat kok.. kamu mau nanya apa sih" jidat roni berkerut
"gini loh kak, kakak ingat ga cowok tadi siang itu ?" pipi reni memerah
""Iya.. yaelahhh, adik kakak ini .. kamu sudah bisa jatuh cinta" roni mengejek adik kesayangannya
"apa sih kak" ga .. mulai hari ini aku tuh sama dia udah sah jadi temen .. sahabat malah, trus besok dia ngajak aku makan bareng di kantin. Boleh ga kak?" reni meminta saran
"temen ato demen ? hahaha.. loh kan kalian udah resmi sahabatan, jadi yah apa salahnya, besok jangan lupa bawa uang lebih ya, buat jaga-jaga siapa tau dia ga ngebayarin makanan kamu "roi tertawa lebar
" hahaha kakak.. ada-ada saja , tapi betul juga sih kak"" reni ikut tertawa
"kak , kok kakak ga pernah cerita ke reni tentang penyakit kakak?" reni melajutkan pertanyaannya
"kan dulu kamu masih anak kecil ren, sekarang sih adik kesayangan kakak yang satu ini udah gede.. jadi yah berhubung karna kamu nanya diluan waktu di mobil tadi pagi, yah kakak wajib jawab pertanyaan kamu" roni mengelus-elus rambut reni
"kakak harus semangat yah..kakak pasti bisa sembuh kok, reni yakin" reni berusaha menahan air matanya
"iya adikku sayang.. walaupun penyakit kakak sudah separah ini,kakak tetap semangat kok, ga ada gunanya bersedih . toh diluar sana masih banyak yang penyakitnya lebih parah dari kakak kan"roni memberikan senyum termanis yang pernah dia miliki .
"hay ren.. mau kemana kamu ?" sapanya dengan lembut
"mau ke kelas kak roi, kan pulangnya bareng kak roi" reni memperlambat langkahnya
"ohh yaudah.. oia, kita bisa berteman kan ? " billy tersenyum
"boleh.. bersahabat malah" reni membalas senyuman billy
"trimaksih yah ren , yasudah, aku pulang diluan yah.. ingat, besok harus makan di kantin bareng buat ngerayain persahabatan kita .."" billy menepuk bahu reni
"ok sipp .. " reni hanya bisa terpaku dan memberikan 1 kata
Setelah tiba di depan kelas roni, reni segera menarik lengan kakaknya agar bisa keluar secepatnya dari kelas yang sok bersih itu
"ayo kak ,cepetan reni punya banyak pertanyaan buat kakak " ucap reni
"iya,, sabar dong ren.. ini juga sudah gerakan cepat kok.. kamu mau nanya apa sih" jidat roni berkerut
"gini loh kak, kakak ingat ga cowok tadi siang itu ?" pipi reni memerah
""Iya.. yaelahhh, adik kakak ini .. kamu sudah bisa jatuh cinta" roni mengejek adik kesayangannya
"apa sih kak" ga .. mulai hari ini aku tuh sama dia udah sah jadi temen .. sahabat malah, trus besok dia ngajak aku makan bareng di kantin. Boleh ga kak?" reni meminta saran
"temen ato demen ? hahaha.. loh kan kalian udah resmi sahabatan, jadi yah apa salahnya, besok jangan lupa bawa uang lebih ya, buat jaga-jaga siapa tau dia ga ngebayarin makanan kamu "roi tertawa lebar
" hahaha kakak.. ada-ada saja , tapi betul juga sih kak"" reni ikut tertawa
"kak , kok kakak ga pernah cerita ke reni tentang penyakit kakak?" reni melajutkan pertanyaannya
"kan dulu kamu masih anak kecil ren, sekarang sih adik kesayangan kakak yang satu ini udah gede.. jadi yah berhubung karna kamu nanya diluan waktu di mobil tadi pagi, yah kakak wajib jawab pertanyaan kamu" roni mengelus-elus rambut reni
"kakak harus semangat yah..kakak pasti bisa sembuh kok, reni yakin" reni berusaha menahan air matanya
"iya adikku sayang.. walaupun penyakit kakak sudah separah ini,kakak tetap semangat kok, ga ada gunanya bersedih . toh diluar sana masih banyak yang penyakitnya lebih parah dari kakak kan"roni memberikan senyum termanis yang pernah dia miliki .
Setahun berlalu, Persahabatan Billy dan reni semakin erat.
disisi lain penyakit roni semakin hari semakin bertambah parah, namun dia
selalu berusaha menutupi keluhan yang dia rasakan sebisa mungkin walau akhirnya
terkadang ia tidak sanggup untuk menahannya.
"kak.. kak roi kenapa ? .. apa yang sakit kak ? "reni kaget ketika melihat kakaknya kesakitan
"ibu... ibu.. kak roi, kak roi bu".. kak roi pingsan.."reni berlari menuju kamar ibunya
"kenpa roi bisa pingsan ? .." ibu roi berlari menghampiri roni
"reni ga tau bu" tadi kak roi megang kepalanya, terus kak roi tiba-tiba pingsan"reni kebingungan
Setelah dibawa ke rumah sakit beberapa jam kemudian roni sadar dari tidurny yang menyesakkan
"saran saya roni harus rutin cuci darah, karna setau saya selama ini roni sama sekali tidak pernah cuci darah" dokter khusus roni memberikan sebuah saran
"baik dok.. trimaksih atas sarannya" ibu roni engangguk perlahan
"kak.. gimana keadaan kakak ? sekarang perasaan kakak agak mendingan kan ?.. kakak yang kuat yah" reni menyemangati kakaknya
"Iya ren, selama kamu ada di samping kakak.. kakak bisa semangat kok" roni mencoba tertawa
"iya kak" sekarang gantian, seperti yang pernah kakak bilang.. reni akan selalu ada untuk kakak, selalu ada" sambung reni
"hahaha kamu ada-ada ajah ren" roni tersenyum
"iya dong kak, reni serius" reni tersipu malu
"kak.. kak roi kenapa ? .. apa yang sakit kak ? "reni kaget ketika melihat kakaknya kesakitan
"ibu... ibu.. kak roi, kak roi bu".. kak roi pingsan.."reni berlari menuju kamar ibunya
"kenpa roi bisa pingsan ? .." ibu roi berlari menghampiri roni
"reni ga tau bu" tadi kak roi megang kepalanya, terus kak roi tiba-tiba pingsan"reni kebingungan
Setelah dibawa ke rumah sakit beberapa jam kemudian roni sadar dari tidurny yang menyesakkan
"saran saya roni harus rutin cuci darah, karna setau saya selama ini roni sama sekali tidak pernah cuci darah" dokter khusus roni memberikan sebuah saran
"baik dok.. trimaksih atas sarannya" ibu roni engangguk perlahan
"kak.. gimana keadaan kakak ? sekarang perasaan kakak agak mendingan kan ?.. kakak yang kuat yah" reni menyemangati kakaknya
"Iya ren, selama kamu ada di samping kakak.. kakak bisa semangat kok" roni mencoba tertawa
"iya kak" sekarang gantian, seperti yang pernah kakak bilang.. reni akan selalu ada untuk kakak, selalu ada" sambung reni
"hahaha kamu ada-ada ajah ren" roni tersenyum
"iya dong kak, reni serius" reni tersipu malu
Ketika roni sudah mulai beraktivitas kembali, roni
memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Ketika tiba di sekolah roni agak sedikit
terkejut saat melihat sebuah kejanggalan yang aneh, tepat duduknya tidak
terlihat kosong
"loh kok? Dia siapa .. sepertinya aku baru melihatnya" kata roni dalam hatinya
"kamu siswa baru? .." roni memulai percakapan
"iya , eh maaf.. disiini tempat kamu yah .. ?" jawabnya sambil tersenyum
"iya .. kamu boleh duduk di situ kok, lagipula selama ini aku memang selalu duduk sendiri " roni berusaha membuatnya merasa nyaman
"trimaksih.. aku Mei .. kamu? " mei mengajak roi bersalaman
"aku roi.. smoga kamu betah sekolah disini yah" roi membalas menyentuh tangan mei
"kamu masuknya kapan?" sambung roi
"aku masuk 2 hari yang lalu, aku baru liat kamu sekarang?.." jawab mei
"iyah, aku sakit.. ini juga baru sembuh"" roni menjawab singkat
Hari terus berlalu, hari-hari roni selalu dipenuhi canda tawa.. bersama reni dan bahkan bersama mei.
"roi, nanti siang kita makan bakso yuk .. kamu kan tahu, aku suka banget makan bakso" mei menarik tangan roi
"iya iya.. boleh kok" roni tidak bisa menolak
Ketika mereka sementara makan, mei memaksa roni untuk makan yang banyak dan bahkan mei memberi beberapa suapan kepada roi
"ayolah roi.. makan yang banyak .. ini kau juga harus makan buah-buahan ini, yang aku suka kesukaan kamu juga kan? Hari ini aku yang nraktir deh, ga apa-apa kan ? " meii membujuk roni
"it"s okey .. pokoknya hari ini hari kamu deh.. yang penting kamu senang " r0i tersenyum dan berusaha menghabiskan makanannya
Keesokan harinya mei terus mengajak roni melakukan banyak hal-hal baru yang setahunya itu sama sekali belum pernah dilakukan oleh roni
"kamu lihat disana roi.. lihat gunung sebelah sana dan gunung yang lain, mereka berbeda kan, bukan hanya pelangi yang perbedaannya nampak begitu jelas, tapi gunung juga" mei memegang tangan roni
"iya mei, kau tahu? Ini pertama kalinya aku melihat dunia luar yang seindah ini. Dan itu karna kamu" roni memegang erat tangan mei seakan-akan tak ingin melepaskannya
"iya aku tahu, siapa dulu.. Meeiii" mei tertawa
"loh kok? Dia siapa .. sepertinya aku baru melihatnya" kata roni dalam hatinya
"kamu siswa baru? .." roni memulai percakapan
"iya , eh maaf.. disiini tempat kamu yah .. ?" jawabnya sambil tersenyum
"iya .. kamu boleh duduk di situ kok, lagipula selama ini aku memang selalu duduk sendiri " roni berusaha membuatnya merasa nyaman
"trimaksih.. aku Mei .. kamu? " mei mengajak roi bersalaman
"aku roi.. smoga kamu betah sekolah disini yah" roi membalas menyentuh tangan mei
"kamu masuknya kapan?" sambung roi
"aku masuk 2 hari yang lalu, aku baru liat kamu sekarang?.." jawab mei
"iyah, aku sakit.. ini juga baru sembuh"" roni menjawab singkat
Hari terus berlalu, hari-hari roni selalu dipenuhi canda tawa.. bersama reni dan bahkan bersama mei.
"roi, nanti siang kita makan bakso yuk .. kamu kan tahu, aku suka banget makan bakso" mei menarik tangan roi
"iya iya.. boleh kok" roni tidak bisa menolak
Ketika mereka sementara makan, mei memaksa roni untuk makan yang banyak dan bahkan mei memberi beberapa suapan kepada roi
"ayolah roi.. makan yang banyak .. ini kau juga harus makan buah-buahan ini, yang aku suka kesukaan kamu juga kan? Hari ini aku yang nraktir deh, ga apa-apa kan ? " meii membujuk roni
"it"s okey .. pokoknya hari ini hari kamu deh.. yang penting kamu senang " r0i tersenyum dan berusaha menghabiskan makanannya
Keesokan harinya mei terus mengajak roni melakukan banyak hal-hal baru yang setahunya itu sama sekali belum pernah dilakukan oleh roni
"kamu lihat disana roi.. lihat gunung sebelah sana dan gunung yang lain, mereka berbeda kan, bukan hanya pelangi yang perbedaannya nampak begitu jelas, tapi gunung juga" mei memegang tangan roni
"iya mei, kau tahu? Ini pertama kalinya aku melihat dunia luar yang seindah ini. Dan itu karna kamu" roni memegang erat tangan mei seakan-akan tak ingin melepaskannya
"iya aku tahu, siapa dulu.. Meeiii" mei tertawa
bersambung karena males ngetik


Posting Komentar